Membuat Sabun dan Kue dari Daging dan Darah Hasil Pembunuhannya? – “The Soap Maker of Correggio” Leonarda Cianciulli

Hi guys, its been a while aku ngga post cerita di webku hehee

So hari ini aku ingin menyuguhkan temen-temen semua sebuah cerita, sama seperti genre story-storyku sebelumnya, mengenai kasus pembunuhan, violance, psikopat dll

Nah bedanya kali ini aksi dari kejadian kejam yang dilakukan bergender perempuan. Yap, Leonarda Cianciulli namanya yang terkenal dengan sebutan “Pembuat sabun dari Correggio”.

Gimana cerita lengkapnya? baca sampai habis yaa xx

Latar Belakang Cianciulli

Leonarda Cianciulli lahir di Montella, Italia pada 18 April 1894. Beliau lahir dari hasil pemerkosaan pada ibunya yang mana pada akhirnya ibunya terpaksa untuk menikahi pemerkosa tersebut setelah berita kehamilan ibunya tersebar.

Engga lama setelah itu, Cianciulli kecil harus menerima kepergian sang ayah, dan ibunya menikah lagi dengan pria lain.

Kondisi ekonomi keluarga Cianciulli dapat dikatakan sangat lemah sekali apalagi ditambah dengan siksaan-siksaan dari sang ibu kepada Cianciulii.

Cianciulli bahkan pernah mencoba untuk melakukan bunuh diri 2 kali namun gagal.

Ibu Cianciulli memaksa cianciulli untuk menikah dengan pria pilihannya namun Cianciulli menolak dan memilih pria lain yang mana jauh lebih tua darinya.

Hasil pertentangan itu membuat Cianciulli merasa bahwa ia telah dikutuk oleh ibunya lantaran hasil pernikahannya tidak berjalan seindah atau sebagus harapannya. Hidupnya dipenuhi dengan penderitaan.

Kemudian pada tahun 1921 atau pada saat Cianciulli berumur sekitar 26 tahun, ia dan suaminya pindah ke kota Lauria. Namun 6 tahun setelah menetap di Lauria, ia dipenjara dikarenakan melakukan penipuan.

Tidak diketahui berapa lama Cianciulli mendekam di dalam penjara, namun setelah ia keluar dari penjara, ia dan suami memutuskan untuk pindah ke kota Lacedonia.

Perpindahannya ke kota lain kiranya dapat memulihkan keuangan mereka. Namun naas terjadi rumah mereka hancur akibat gempa bumi yang terjadi pada 1930 dan mereka pindah lagi ke kota Correggio.

Akhirnya setelah bertahun-tahun merasakan hidup yang sengsara, di kota ini kehidupan dan keuangan mereka dapat dikatakan bagus.

Cianciulli membuka bisnis sabun disana, dan dikenal sama masyarakat sebagai sosok yang lembut, baik, yah as a good neighbour.

Langkah Awal Menuju Kasus Pembunuhan

Ohya menyinggung pernikahan Cianciulli, ia mengalami kehamilan sebanyak 17 kali, namun 3 diantaranya keguguran dan 10 lainnya meninggal saat masih kecil dan hanya sisa 4 anaknya yang hidup.

Ketakutan Cianciulli muncul ketika ia mendengarkan ramalan mengenai dirinya yang mana sang peramal mengatakan bahwa semua anak hasil lahirannya akan meninggal muda.

Hal tersebut membuat Cianciulli super duper protektif dengan ke-4 anaknya dengan notabene sang ibu sangat percaya sekali dengan ramalan.

Cianciulli juga pergi menemui peramal yang membaca garis tangan, dan kata peramal itu “aku melihat penjara ditangan kananmu, dan melihat rumah sakit jiwa kriminal ditangan kirimu”

Tentu seperti yang aku singgung di atas, ia sangat memercayai ramalan seperti ini dan tampaknya Cianciulli membawanya ke hati.

Titik Kasus

Pada tahun 1939, tepat 9 tahun setelah pindahnya mereka ke kota tercinta ini, Cianciulli mendapati kabar bahwa putra sulungnya ditunjuk menjadi bagian dari Angkatan Darat Italia dalam mempersiapkan Perang Dunia ke II memasuki sisi Jerman.

Tentu sang ibu sangat khawatir dan takut kehilangan putranya, sehingga ia berasumsi bahwa untuk menyelamatkan nyawa anaknya, harus ada pengorbanan nyawa orang lain.

Nah dari sinilah ia merencanakan kasus pembunuhannya.

Selain membuka usaha sabun, Cianciulli juga merupakan seorang peramal.

Ia menetapkan rencana dan korbannya, dan ternyata korbannya merupakan tetangganya sendiri yang terdiri dari Faustina Setti, Clementina Soavi, dan Virginia Caicoppo.

Korban pertama ialah Faustina Setti. Pada saat itu, Setti datang meminta pertolongan kepada Cianciulli untuk menemukan jodohnya. Cianciulli mengatakan bahwa ada pasangan yang cocok untuk Setti di Pola tapi Setti harus merahasiakan ini.

Setti dibujuk untuk menuliskan surat kepada teman-temannya dan keluarganya untuk tidak mengkhawatirkannya dan saat ia berada di Pola, everythings gonna be fine for sure.

Pada saat itulah ketika hari keberangkatan Setti ke Pola, Setti mengunjungi Cianciulli untuk pamit sebentar. Namun ternyata kepamitan yang dilakukan Setti malah merupakan hari dimana nyawanya hilang.

Setti disuguhkan segelas wine – to brighter days ahead. Ternyata air anggur tersebut berisi obat bius. Setelah Setti tidak sadarkan diri, Cianciulli memukul Setti dengan kapak hingga Setti tewas ditempat.

Potongan-potongan badan Setti dimasukkan kedalam panci dan dimasukkan 7 kg soda api, yang dibelinya untuk membuat sabun, kemudian ia mengaduk campuran itu hingga kental dan dimasukkan ke dalam beberapa ember dan dibuang di septic tank terdekat.

Darah korban yang ada dibaskom, ditunggu hingga mengental, dikeringkan dalam oven, digiling dan dicampur dengan tepung, gula, coklat, susu, telur, dan sedikit margarin. Ia membuat banyak kue dari adonan tersebut dan membagikannya ke tetangga-tetangga yang berkunjung ke tempatnya, termasuk putra sulung dan dirinya sendiri.

eew, bisa bayangin ga ya klo kue yang kita makan itu terbuat dari darah manusia omg

Korban kedua Clementina Soavi, juga mengalami kasus yang serupa, ia datang menemui Peramal Cianciulli untuk diminta mencarikan pekerjaan. Cianciulli mengatakan ada pekerjaan bagus di Piacenza. Kemudian korban juga disuruh untuk membuat surat kepada teman dan keluarganya.

Sama seperti Setti, Soavi juga sebelum keberangkatannya, ia datang menemui Cianciulli untuk berpamit, ia disuguhkan minuman anggur, dan setelah diminum tidak sadarkan diri.

Soavi kemudian dibunuh menggunakan kapak dan darahnya juga dijadikan kue.

Korban terakhir Cianciulli ialah Virginia Cacioppo, kasusnya sama dengan kasus-kasus sebelumnya, ia datang meminta pekerjaan pada Cianciulli dan berakhir tewas mengenaskan.

Cianciulli mengatakan :
‘ ia berakhir dalam panci, seperti 2 korban sebelumnya, dagingnya putih dan empuk, ketika cair, aku menambahkan sebotol cologne, dan ketika mendidih beberapa lama aku bisa membuat sabun yang the most acceptable. Begitu juga dengan rasa kue, jauh lebih baik, wanita itu bener-bener manis.’

Psikopat banget kannn!

Penangkapan Cianciulli

Pembunuhan Cianciulli terungkap saat kakak ipar dari korban terakhir, Cacioppo, merasakan ada yang aneh dan curiga pada ketiba-tibaan menghilangnya Cacioppo.

Ia mengetahui keberadaan terakhir Cacioppo berada dirumah Cianciulli dan kemudian melaporkan kasus tersebut ke polisi di yang pada saat itu membuka penyelidikan dan menangkap Cianciulli.

Cianciulli mengakui perbuatannya, dan langsung merincikan kejadian-kejadian yang terjadi.

Akhir dari Kasus

Cianciulli dinyatakan bersalah dan divonis 30 tahun dipenjara dan 3 tahun di rumah sakit jiwa. Tepat sekali dengan apa yang dikatakan oleh peramal garis tangan sebelumnya. Namun sebelum masa tahanannya habis, Cianciulli meninggal pada 1970 dikarenakan serangan otak.

Pada saat dirinya berada dalam jeruji besi, Cianciulli menulis riwayat hidupnya yang dia judulin “Embittered Soul’s confession” atau Pengakuan jiwa yang pahit yang berisikan gambaran mengenai gimana dia melakukan kejahatannya.

Beberapa bukti dari alat-alat yang digunakan Cianciulli pada saat ia melakukan aksinya dipampang di Museum Krimonologi, Roma.

Last Words
Wih I hope someday aku bisa mengunjungi tempat-tempat seperti ini untuk melihat peninggalan-peninggalan orang zaman dulu. Quite scary but interesting.

Okeyy sekian cerita hari ini, see you guys on the next stories ^^

Sumber

https://nationalgeographic.grid.id/read/13963615/leonarda-cianciulli-pembunuh-yang-gunakan-darah-korbannya-untuk-membuat-kue?page=all