Akibat Terlalu Dikontrol dan Dikekang, Gadis ini Bunuh Orangtuanya! – Jennifer Pan

Hei Guys

Setelah postinganku tentang cerita seorang ibu sadis yang membunuh 2 anak balitanya, sekarang kebalikannya, kasus ini menceritakan seroang anak perempuan yang merencanakan pembunuhan orangtuanya, bahkan sampai merekrut pembunuh bayaran untuk menyingkirkan orangtuanya yang dianggap sudah terlalu mengekangnya!

Awalnya Jennifer dengan matang menyiapkan semua rencana pembunuhannya agar terlihat perfect,

Namun, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya akan tercium juga.

Penasaran gimana akhirnya kasus Jennifer terbongkar? Check it out ^^

Siapa Jennifer Pan ?

Jennifer Pan, lahir pada 17 Juni 1986 di Toronto, Canada merupakan anak sulung dari pasangan Bich Ha Pan (ibu) dan Huei Hann Pan (ayah).

Kedua orang tua Jennifer merupakan pengungsi dari Vietnam ke Canada. Mereka menikah di Toronto dan tinggal di Scarborough.

Jennifer juga memiliki seorang adik laki-laki bernama Felix yang hanya beda 3 tahun.

Dikarenakan berstatus sebagai pengungsi, kedua orang tua Jennifer bekerja banting tulang untuk menghidupkan keluarga kecil mereka dan juga pendidikan anak-anak mereka.

Pada tahun 2004, ketika finansial orangtuanya stabil, Hann membeli sebuah rumah yang cukup mewah dengan 2 garasi di perumahan Markham, sebuah kota di Greater Toronto.

Orangtua Jennifer merupakan tipe orangtua yang dalam parentingnya sangat tegas, menetapkan banyak goals dan harapan yang tinggi terhadap anak-anak mereka.

Selain mengharapkan Jennifer pintar dalam akademis, orang tua Jennifer juga memberikan les piano padanya saat ia berumur 4 tahun dan juga belajar skating setiap minggu.

Jennifer mempunyai harapan untuk dapat menjadi juara skating di Olimpiade namun ligamen dilututnya robek sehingga harapan itu pupus.

Pada saat SMA, Jennifer bersekolah di sekolah katolik Mary Ward yang dimana pada saat itu ia mengikuti kegiatan school band nya dan berperan sebagai pemain suling.

Salah satu teman Jennifer berkata bahwa ayah Jennifer terkenal sebagai “ayah harimau klasik” sedangkan ibunya hanya sebagai kaki tangannya.

Ayah Jennifer akan menjemput Jennifer ketika kelas berakhir, memantau semua kegiatan ekskullnya, melarang Jennifer pacaran ataupun menghadiri pesta dansa sekolahnya.

Hal tersebut dilakukan karena orangtua Jennifer takut Jennifer akan keblablasan dan menjadi tidak fokus belajar.

Sama seperti anak-anak pada umumnya yang nilai matapelajarannya tidak semulus itu, Jennifer sering mendapatkan nilai dibawah rata-rata, namun karena tidak mau mematahkan harapan orangtuanya dan ga mau terlalu dikontrol, Jennifer memalsukan semua nilainya.

Orangtua Jennifer tidak mengetahui pemalsuannya tersebut dan bener-bener berfikir bahwa Jennifer mendapatkan nilai sempurna alias A.

Harapan yang tinggi dari orangtua Jennifer untuk menguliahkan anaknya di salah satu univ terbaik di Canada yaitu Universitas Ryerson.

Sayangnya, pada saat ujian akhir kelas 12, Jennifer gagal di matakuliah kalkulus sehingga menyebabkan ia tidak bisa masuk ke univ tersebut.

Karena Jennifer tidak mau di anggap gagal, dia mulai berbohong kepada orangtuanya dan berpura-pura dia kuliah. Ia mengatakan kepada orangtuanya bahwa ia menerima beasiswa padahal bukannya kuliah ia malah kerja di cafe, restoran dan sebagai instruktur piano untuk mendapatkan uang.

Untuk memuluskan kebohongannya, Jennifer mengatakan bahwa ia ditawarkan dalam program farmasi di Universitas Toronto. Ia membeli buku bekas, menonton video tentang farmasi dan membuat buku catatan seolah ia sedang membuat catatan kelas dan ditunjukkan kepada orangtuanya.

Jennifer juga meminta izin kepada orangtuanya untuk tinggal dekat kampus dengan seorang temannya sepanjang minggu.

Bukannya tinggal dengan temannya, ia malah tinggal dengan kekasihnya Daniel Chi-Kwong Wong.

Yapp selama ini ia backstreet dengan Daniel yang dia temui di SMA nya di group bandnya. Daniel merupakan seorang pengedar ganja.

Seling berpura-pura menyelesaikan kuliahnya, Jennifer memberitahu orangtuanya bahwa ia bekerja sebagai sukarelawan di Rumah Sakit anak-anak.

Nah dari sini orangtua Jennifer mencurigai Jennifer karena dia tidak mempunyai lencana atau ID Rumah Sakit.

Pada suatu hari, Ibu Jennifer mengikuti Jennifer yang pada saat itu ia mengatakan ia akan berangkat bekerja dan saat itulah semua sandiwaranya terbongkar.

Ia tertangkap basah dan kemudian ia menceritakan semua kepalsuan nilai yang dibuat, kebohongannya mengenai beasiswa dan lain-lain.

Orangtua Jennifer sangat marah sekali dan tidak menyangka putrinya berbuat begitu. Ayah Jennifer ingin mengusirnya dari rumah namun ditahan oleh ibu Jennifer.

Orangtua Jennifer menjadi semakin parno dan super duperrrr protektif terhadap Jennifer. Handphone, laptop disita dan juga mereka memasang alat pelacak di mobil.

Keterbatasan pertemuan antara Jennifer dan Daniel membuat Daniel semakin muak dan memutuskan hubungan dengan Jennifer dan memulai hubungan baru dengan wanita lain.

Namun setelah mengetahui Daniel mempunyai perempuan baru, Jennifer semakin menjadi-jadi. Ia melakukan segala cara untuk merebut Daniel kembali.

Kasus Pembunuhan

Pada 2010, atau ketika Jennifer berumur sekitar 24 th, ia menkontak salah satu teman semasa sekolahnya, Andrew Montemayor yang mana pada akhirnya Jennifer terfikirkan ide untuk membunuh ayahnya.

Andrew memperkenalkan Jennifer dengan kenalannya, yang akan membantu Jennifer dalam menjalakan aksinya namun dengan imbalan $1.500 atau sekitar 22 jutaan.

Namun, uang tersebut malah dibawa kabur dan rencana Jennifer kali ini gagal.

Seiring berjalannya waktu, Jennifer balikan lagi dengan Daniel. Nah kali ini dengan Daniel, mereka merencanakan dan menyewa pembunuh bayaran profesional dengan harga selangit ratusan juta.

Biaya tersebut tidak terlalu dipikir panjang karena mereka telah menghitung-hitung bahwa mereka akan mendapatkan warisan sebesar 7.5 M.

Daniel akhirnya mengenali Jennifer dengan beberapa pria yang akan menjalankan aksi ini dan memberikan Jennifer telfon cadangan agar dapat berkomunikasi dengannya.

Aksi pembunuhan pun dilaksanakan di rumah Jennifer pada 8 November 2010. Jennifer diam-diam membuka pintu depan rumahnya, kembali ke kamarnya, dan berbicara dengan para aksi lewat telfonnya.

Para pelaku memasuki rumah Jennifer dengan membawa senjata. Setelah menggeledah semua kamar dirumah, para pelaku membawa kedua orangtua Jennifer ke ruang bawah tanah dan menembaki mereka beberapa kali.

Jennifer berpura-pura menjadi korban dengan terikat di salah satu tiang rumah, dan menelfon 911.

Jennifer berpura-pura menelfon 911

Ibu Jennifer tewas sedangkan Ayah Jennifer berhasil selamat namun koma.

Ayah Jennifer dikabarkan dirawat Rumah Sakit Markham sebelum dipindahkan ke unit trauma di Rumah Sakit Sunnybrook, Toronto,

Setelah Pembunuhan

Malam setelah pembunuhan, Jennifer menjalani wawancara dengan polisi.

Karena Jennifer gagal dalam menutupi aksinya, hal tersebut menimbulkan kecurigaan pada polisi dan membuatnya menghabiskan beberapa minggu dalam proses penyelidikan polisi. Ia membuat cerita yang begitu rumit untuk menghindari penyelidikan polisi.

Polisi curiga, kenapa para pencuri hanya menembak 2 dari 3 saksi? Ga mungkin penjahat secara cuma-cuma meninggalkan seorang saksi mata begitu saja.

Kemudian pada 22 November, hampir 2 minggu setelah pembunuhan, detektif yang menangani kasus ini membawa Jennifer untuk diintrogasi lebih lanjut.

Putus asa, Jennifer mengarang lagi cerita dengan mengatakan bahwa awalnya insiden itu adalah rencananya untuk bunuh diri namun alih-alih membunuhnya, para pelaku malah membunuh orang tuanya.

Selama wawancara tersebut, Petugas yang menintrogasi Jennifer mengatakan bahwa ia memiliki software yang dapat menganalisis kebohongan dan juga ada satelit yang menggunakan teknologi inframerah untuk menganalisis pergerakan digedung guna mendapat pengakuan dari Jennifer.

Pihak Kepolisian berusaha mendapatkan informasi dari Jennifer bahkan seputar bagaimana dia bisa menelfon 911 dalam kondisi tangannya yang terikat. Berikut cuplikan videonya:

Polisi meminta Jennifer memperagakan bagaimana dia bisa menelfon 911 dalam kondisi tangan terikat. Source : Youtube/TrueCrimeDaily

Hukuman Bagi Jennifer dan Para Pelaku Bayaran

Sebelum menjatuhi vonis hukuman, Jennifer awalnya tampak optimis. Kemudian ketika vonis bersalah disampaikan, Jennifer tidak menunjukkan emosi apapun.

Tetapi begitu pers meninggalkan ruang sidang, Jennifer menangis terseduh-seduh hingga gemetar tak terkendali.

Jennifer, Daniel dan 3 pelaku lain mendapatkan hukuman penjara seumur hidup tanpa kemuningkinan pembebasan bersyarat selama 25 tahun.

Ayah Jennifer dan Felix, adik laki-lakinya mengajukan permintaan kepada pengadilan untuk melarang Jennifer menghubungi anggota keluarganya yang masih hidup.

Meskipun ada keberatan dari pengacara pembela, namun hakim menyetujui perintah tersebut dan Jennifer juga dilarang untuk menghubungi Daniel lagi.

Last Words

Bagaimanapun pembunuhan merupakan tindakan yang diluar nalar banget untuk menyelesaikan permasalahan.

Untuk orangtua dan ofcourse remind for myself, anak-anak butuh perhatian dan juga hiburan untuk dirinya sendiri.

Kontrol boleh, protektif boleh namun tetap ada batasnya. Jangan terlalu memaksakan anak untuk menjadi seperti yang “orangtua” mau, terkadang anak punya prinsip dan visi misi sendiri.

Well, tapi tetap saja, balas dendam dengan cara pembunuhan uda terlewat batas banget. Semoga Jennifer’s mom Rest in Peace dan semoga ayahnya lekas sembuh.

See you guys on my next stories , dadahhh

Sumber

https://en.wikipedia.org/wiki/Jennifer_Pan

https://www.haibunda.com/trending/20200902145231-93-159872/kisah-jennifer-pan-anak-yang-sewa-pembunuh-bayaran-untuk-habisi-nyawa-ortu

https://www.ranker.com/list/jennifer-pan-parents-facts/inigo-gonzalez

https://mysteriesrunsolved.com/id/2021/01/jennifer-pan-now.html